Sirkus Lumba-Lumba, Pembodohan Publik dan Eksploitasi Satwa

Lumba-lumba atau yang dalam bahasa Inggrisnya disebut dolphin termasuk ke dalam mamalia air yang hidup dalam kawanan atau kelompok. Binatang ini berkomunikasi serta menerima rangsangan dengan menggunakan sistem sonar, sehingga lumba-lumba akan dapat menghindari benda-benda di depannya. Lumba-lumba dapat ditemukan di laut serta sungai di seluruh dunia. Mamalia ini masih merupakan kerabat dekat dari paus serta pesut. Struktur tubuh yang kompleks membuat ada banyak teknologi yang tercipta dengan mengambil inspirasi dari lumba-lumba. Di antaranya ialah baju renang dengan struktur menyerupai kulit lumba-lumba yang bisa memperkecil gesekan serta radar dalam kapal selam yang cara kerjanya mirip dengan sonar lumba-lumba.

Selain terkenal akan struktur tubuhnya yang kompleks dan menginspirasi aneka teknologi, lumba-lumba juga terkenal akan kecerdasannya. Bahkan, lumba-lumba termasuk ke dalam binatang yang paling cerdas di samping primata seperti simpanse. Lumba-lumba yang terlatih dapat menjadi bintang sirkus karena mampu melompati lingkaran api dan sejumlah atraksi lainnya. Karena itulah tak mengherankan apabila sering kita temukan sirkus lumba-lumba keliling. Akan tetapi, perlakuan yang tidak pantas pada lumba-lumba sirkus akhirnya menarik perhatian masyarakat, terutama dari kalangan pecinta binatang. Sirkus lumba-lumba dan juga aneka hewan lainnya dianggap sebagai pembodohan publik serta eksploitasi hewan. Ada beberapa poin yang menyebabkan sirkus lumba-lumba sebagai pembodohan publik dan eksploitasi hewan.

sirkus lumba lumba jakarta

Yang pertama adalah adanya perlakuan menyimpang pada para lumba-lumba yang menjadi bintang sirkus. Dimulai dari proses penangkapan sampai dengan proses pelatihan yang dijalani, lumba-lumba akan diperintah dengan ancaman serta rasa takut. Terkadang seekor lumba-lumba akan dibiarkan merasa kelaparan lalu diimingi-imingi makanan agar menuruti pawangnya. Tak sampai di situ, tempat tinggal lumba-lumba selama sirkus pun dibuat seadanya saja, sehingga terkesan seperti penjara. Yang lebih miris, tempat tinggal ini menggunakan air tawar yang dicampur dengan klorin serta garam. Penggunaan klorin akan sangat berbahaya karena bisa menyebabkan rabun serta kebutaan untuk lumba-lumba. Tingkat kelembaban dari tempat tinggal lumba-lumba pun kurang diperhatikan sehingga dapat melukai kulitnya yang sensitif.

Hal lain yang membuat sirkus lumba-lumba termasuk ke dalam eksploitasi satwa ialah pemberian makanan pada binatang cerdas tersebut. Data yang didapat dari Jakarta Animal Aid Network atau JAAN mengungkap bahwa lumba-lumba sirkus harus menjalani diet ketika hendak tampil. Hal ini dilakukan agar lumba-lumba tersebut mau menuruti perintah pawangnya selama pertunjukan sirkus berlangsung, karena dalam keadaan lapar mereka akan melakukan apa saja untuk mendapat makanan. Lumba-lumba juga turut menderita karena sensitifnya sistem sonar mereka terhadap suara yang ada di sekitarnya. Pada saat sirkus berlangsung, meriahnya suara penonton tanpa disadari telah menyakiti lumba-lumba yang tampil.

lumba lumba sakit

Lalu, di mana sisi pembodohan publik dari sirkus lumba-lumba ini? Sebuah pertunjukan sirkus lumba-lumba umumnya akan mengatakan bahwa tujuan dari sirkus lumba-lumba adalah untuk pendidikan serta mendukung konservasi. Namun apabila ditilik lebih jauh dan ternyata ditemukan fakta mengenai perlakuan tak pantas pada binatang-binatang tersebut, masih pantaskah sirkus lumba-lumba disebut sebagai ajang pendidikan dan konservasi? Sirkus lumba-lumba justru lebih mengedepankan hiburan serta minim akan penyampaian pesan terkait konservasi. Pengenalan pada satwa liar dengan tidak menunjukkan habitat aslinya akan membuat pengetahuan anak-anak menjadi sempit, serta ditakutkan justru akan mencetak generasi baru yang lebih eksploitatif ke depannya. Jadi, di mana letak edukasinya?

Peragaan satwa liar juga seharusnya memperhatikan bagaimana perilaku alami dari binatang tersebut di alam liar. Pada saat sirkus lumba-lumba berlangsung, tak jarang seekor lumba-lumba dipaksa untuk naik ke daratan serta mencium atau berfoto dengan pengunjung. Atraksi ini termasuk berbahaya karena lumba-lumba harus menahan berat hingga tiga kali lipat dari berat badannya. Selain itu, adanya kasus seekor lumba-lumba menyerang pengunjung saat berfoto bersama juga seharusnya menjadi pelajaran bahwa seekor lumba-lumba sewajarnya berada di alam liar, bukan di dalam arena sirkus. Berbagai atraksi yang tidak menunjukkan perilaku binatang secara alami adalah salah satu bentuk merendahkan martabat aneka satwa atas kehendak manusia.

sirkus lumba lumba

Indonesia menjadi satu-satunya negara yang melegalkan sirkus lumba-lumba. Beberapa organisasi non profit telah melayangkan protes pada pemerintah guna menghentikan sirkus lumba-lumba sebagai pembodohan publik dan eksploitasi satwa ini. Atraksi sirkus lumba-lumba serta pertunjukan aneka hewan lainnya tidak menyampaikan pesan pendidikan sama sekali terkait konservasi, tidak menghargai kesejahteraan binatang serta justru merendahkan martabat dari binatang-binatang tersebut. Lebih dari itu, sirkus lumba-lumba juga menyakiti mamalia yang menjadi bintang utamanya serta menjauhkan mereka dari habitat aslinya. Sudah saatnya pemerintah dan juga kita sebagai anggota masyarakat menolak dengan keras segala bentuk eksploitasi hewan yang tidak menonjolkan sisi edukasi seperti ini demi kesejahteraan lumba-lumba agar mereka tidak lekas punah di masa depan.

lumba2

Pesut Mahakam, Binatang Langka Di IndonesiaBinatang.net

Kata kunci pencarian:

Related Posts